Translate

Kamis, 24 Mei 2012

Cerpen : "Memories of you"


PERPISAHAN


Malam ini hujan deras sekali,bagai butir-butir kristal yang terus menerjang bumi. Terdengar berderaian menerpa atap rumah, rumah yang cukup mewah, di rumah mewah itu tinggal seorang gadis yang cantik. Namanya Laurensia biasa di panggil sya. Hidungnya mancung, rambutnya lurus di biarkan terurai. Dia berdiri di depan jendela kamarnya memandang butir-butir hujan yang terus menetes, jatuh dari langit, bagai air matanya yang terus mengalir di pipinya, seakan terlukis di wajahnya yang cantik kenangan pahit yang pernah dia alami. Tangannya memegang sebuah buku harian, buku yang isinya penuh dengan kenangan.Sesekali terlihat dia menyeka air matanya, sungguh menyedihkan.
Tanpa disadari mamanya mengetok pintu kamarnya.
“Tok…tok…tok…sayang buka pintunya dong, ada Nanda tuh, udah nunggu kamu di bawah…!!
“ Iya bentar ma!!! Emangnya ada perlu apa sih dia datang malam-malam gini, emangnya gak ada kerjaan tuh anak “ jawab Laurensia ketus.
“ Katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu, cepatlah turun,!! Jangan membuat tamumu menunggu lama kasian tuh!!!!” kata bu Rina membujuk anak semata wayangnya itu.
“ iya bentar ma,, bilang ama nanda tunggu sebentar aku lagi ganti baju, bentar !!!” jawab laurensia ketus.
     Tak lama kemudian Laurensia dengan langkah gontai menuruni tangga rumahnya, wajahnya sayu tak bersemangat membuat iba setiap orang yang melihatnya. Matanya kelihatan bengkak,merah,seperti habis menangis seharian.
“udah lama ya nunggunya ? “ sapa laurensia.
“ Gak kok sya, baru 15 menit!! kamu habis nangis lagi ya,..???” Tanya Nanda, menatap lekat wajah kekasihnya ini.Laurensia terdiam kepalanya tertunduk,seakan tak sanggup memandang wajah kekasihnya Nanda, lelaki yang sangat tampan, sekaligus lelaki yang amat di cintainya itu.
“Aku tak sanggup melihat kenyataan ini” kata laurensia terisak, tanpa disadarinya air matanya terus mengalir di pipinya.
“Maafkan aq sya, aku gak pernah bermaksud nyakitin kamu, aku sayang sama kamu. Berpisah denganmu itu berat bagiku tapi aku mau kamu tegar.”kata Nanda sambil menyeka air mata laurensia.
“Aku ingin kamu terus tersenyum walau tanpa aku di sisimu,aku mau kamu mengiklaskan semua ini,” lanjut Nanda.
     Laurensia terdiam, dia tak mampu berkata sepatahpun. Hatinya sakit sekali rasanya,hancur tak terbentuk lagi. Tapi dia menyadari semua ini sudah takdir, jalan hidup yang harus dia jalani. Laurensia mencoba tersenyum untuk terakhir kali kepada Nanda, mencoba untuk tegar. “Aku terima semua keputusan kamu, mungkin ini sudah yang terbaik untuk kita.” Laurensia mencoba bicara.
     Nanda mengajak Laurensia keluar. Mereka berdua duduk ditaman di belakang rumah laurensia. Taman yang cukup indah dan terawat, angin malam yang bertiup pelan seakan ikut meratapi perpisahan mereka dan bintangpun menjadi saksi atas cinta mereka.
“indah sekali ya malam ini!!!” kata Nanda membuka pembicaraan, dia menatap langit yang bertabur bintang, sesekali di liriknya Laurensia. Yang kini terus diam bagai patung di sebelahnya.
SUNYI….
 “Aku berharap ini bukan pertemuan terakhir kita,,, aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi” lanjut Nanda. Kini dia menatap lekat wajah laurensia, seakan berusaha menegarkan hati kekasihnya itu. Dan akhirnya laurensia berbicara juga.
“Aku sudah mengiklaskan semuanya. Aku sudah merelakan dirimu pergi meninggalkan diriku,thanks buat semua kebaikan dirimu untuk diriku selama ini. Aku akan selalu berdoa untuk dirimu semoga kamu selalu bahagia.”
“aku pasti akan merindukan dirimu” bisik Nanda kepada Laurensia. Dia peluk kekasihnya untuk terakhir kalinya, di ciumnya pipi Laurensia.
     Akhirnya mereka harus berpisah, Nanda pergi keluar negeri mengikuti kedua orang tuanya yang bertugas di Amerika, demi orang tuanya dia rela berpisah dengan orang yang sangat di cintainya.

“JARAK DAN TEMPAT AKHIRNYA MENJADI ALASAN PERPISAHAN, NAMUN KUPERCAYA KEKUATAN CINTAku KEPADAMU AKAN MENGEMBALIKAN DIRImu LAGI KEPADAku…..”